Ceritaku 2

 

JUDUL: MENERAPKAN  PEMBELAJARAN SOSIAL EMOSIONAL SCOOLL WELL-BEING PADA PELAJARAN MATEMATIKA MATERI BILANGAN PECAHAN KELAS 7

 

Kerangka Permasalahan

Peran strategis pendidikan terletak pada kemampuannya membentuk sumber daya manusia yang kompeten dan unggul.tidak hanya dari segi akademik, tetapi juga dalam aspek psikologis, sosial, dan emosional. Sekolah sebagai lembaga pendidikan formal berfungsi bukan hanya sebagai tempat transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga sebagai lingkungan sosial yang sangat mempengaruhi kesejahteraan setiap individu yang ada di dalamnya. Namun, dalam praktiknya, perhatian terhadap kesejahteraan psikososial di lingkungan sekolah sering kali masih terabaikan. Fokus utama institusi pendidikan umumnya lebih terpusat pada pencapaian akademik peserta didik, sementara aspek kesejahteraan kurang mendapat prioritas..

Realitas di lapangan menunjukkan bahwa banyak sekolah masih menghadapi tantangan dalam mengintegrasikan prinsip-prinsip school well-being ke dalam budaya dan sistem pendidikannya. Kasus-kasus bullying, tekanan akademik yang tinggi, minimnya ruang partisipasi siswa, serta kurangnya perhatian terhadap kesehatan mental guru menjadi beberapa contoh isu yang menghambat terciptanya lingkungan belajar yang sejahtera. Padahal, berbagai penelitian menunjukkan bahwa kesejahteraan yang baik di lingkungan sekolah tidak hanya berkontribusi pada peningkatan prestasi akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter, keterampilan sosial, dan kesehatan mental jangka panjang bagi siswa dan guru.

Karena hal tersebut, sangat penting bagi setiap lembaga pendidikan untuk memperluas perhatian mereka, tidak terbatas hanya pada aspek kognitif.tetapi juga memperhatikan kesejahteraan holistik seluruh warga sekolah. Implementasi school well-being dapat menjadi strategi yang efektif untuk menciptakan ekosistem pendidikan yang inklusif, suportif, dan berorientasi pada pengembangan potensi manusia secara utuh. Melalui pendekatan ini, diharapkan setiap individu di lingkungan sekolah dapat tumbuh dan berkembang dalam suasana yang sehat, aman, dan bermakna.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PEMBAHASAN

 

A.  PENGERTIAN SCHOOLL WELL BEING

Kesejahteraan sekolah (school well-being) mencakup perasaan sejahtera yang dialami oleh seluruh komunitas sekolah, terdiri atas siswa, tenaga pengajar, dan staf administrasi.Kesejahteraan ini tidak hanya soal kesehatan fisik, tetapi juga mencakup kesehatan mental, hubungan sosial yang baik, dan perasaan emosional yang positif. Dengan adanya kesejahteraan ini, setiap orang di sekolah bisa belajar, bekerja, dan berinteraksi dengan nyaman dan penuh semangat.Dalam hal ini, school well-being bukan hanya diperuntukkan bagi siswa saja, tetapi juga penting bagi guru dan staf sekolah. Sekolah yang memperhatikan kesejahteraan semua warganya akan menciptakan lingkungan yang aman, nyaman, dan membuat setiap orang merasa dihargai. Hal ini berdampak positif baik dalam kegiatan belajar mengajar maupun dalam hubungan antar sesama di sekolah.

B.  Dimensi Schooll Well-Being

Ada beberapa dimensi yang mengambarkan kondisi sekolah yang sehat dan sejahtera

1. Menurut Hascher ( dalam jarvela,2011 ) menjelaskan 6 dimensi Schooll Weell-Being

·         Sikap dan emosi pasif terhadap sekolah : artinya, mereka tidak merasakan tekanan emosional yang intens, baik berupa ketakutan, stres, maupun euforia yang berlebihan. Sikap dan emosi pasif mencerminkan kestabilan emosional yang memungkinkan individu menjalani aktivitas di sekolah secara seimbang, tanpa rasa tertekan atau terbebani secara psikologi

·         Konsep diri akademik yang sehat : Konsep diri akademik yang positif memungkinkan seseorang untuk memiliki keyakinan terhadap kapasitas dirinya dalam belajar dan meraih pencapaian akademik, berkembang, dan menghadapi tantangan akademik di sekolah tanpa merasa rendah diri atau berlebihan dalam menilai kemampuan diri

·         Menikmati aktifitas sekolah : ketika siswa menikmati aktivitas sekolah, baik kegiatan akademik maupun non-akademik, mereka akan merasa termotivasi, terlibat aktif, dan memiliki persepsi positif terhadap pengalaman belajar.

·         Bebas dari kecemasan datang kesekolah : Perasaan cemas terhadap sekolah bisa timbul akibat tekanan akademik, bullying, konflik sosial, atau ketidaknyamanan terhadap lingkungan fisik sekolah. Dengan terbebas dari kecemasan tersebut, individu dapat menjalani proses belajar dengan lebih tenang, nyaman, dan termotivasi.

·         Tidak ada keluan didalam sekolah : siswa merasa puas terhadap kondisi sekolah, baik dari aspek fasilitas, hubungan sosial, maupun sistem pembelajaran.

·         Minim konflik berat disekolah : sekolah  mampu meminimalkan konflik berat akan menciptakan lingkungan sosial yang suportif, ramah, dan aman. Hal ini sangat penting agar setiap individu dapat belajar dan berinteraksi tanpa rasa takut atau terancam.

 

 

2. Sejalan dengan apa yang diungkapkan Konu dan Rimpela (2002) menjelaskan 4 dimensi

Seperti yang diungkapkan oleh Konu dan Rimpela (2002),kesejahteraan individu, khususnya dalam konteks pendidikan dan perkembangan anak serta remaja, dapat dipahami melalui empat dimensi utama. Keempat dimensi ini saling berhubungan dan membentuk kerangka konseptual dalam mengevaluasi kualitas hidup serta kesejahteraan psikososial.

Ø  Having ( memiliki ):  merujuk pada aspek pemenuhan kebutuhan material dan lingkungan yang mendukung, seperti fasilitas pendidikan yang memadai, akses terhadap sumber daya, serta lingkungan fisik yang aman dan nyaman.

Ø  Loving ( mencintai ): yang menekankan pada pentingnya hubungan sosial yang hangat dan suportif, baik di dalam keluarga, sekolah, maupun dengan teman sebaya.

Ø  Being ( menjadi ) : mencakup aspek keberadaan diri yang autentik, mencakup penghargaan terhadap diri sendiri, perasaan bermakna, serta kesempatan untuk mengekspresikan potensi diri dan mencapai tujuan pribadi.

Ø  Health ( status kesehatan ): yang berfokus pada kondisi kesehatan fisik dan mental. Kesehatan yang baik memungkinkan individu untuk berfungsi secara optimal dalam kehidupan sehari-hari, menghadapi tantangan, dan menjaga keseimbangan psikologis.

Secara keseluruhan, Konu dan Rimpela menegaskan bahwa keempat dimensi ini harus diperhatikan secara seimbang dalam upaya menciptakan lingkungan yang mendukung perkembangan positif anak dan remaja, sehingga kebijakan dan program pendidikan dapat lebih terarah dan efektif.

C. Langkah Penerapan Schooll well-Being Pada Pembelajaran Matematika di kelas 7

Langkah-Langkah Pembelajaran:

  1. Pembukaan yang Positif (5–10 menit)

Guru memulai pelajaran dengan permainan ringan atau tebak-tebakan angka agar suasana kelas menjadi ceria dan siswa lebih bersemangat untuk belajar. Setelah itu, guru menjelaskan bahwa hari ini siswa akan belajar tentang Pecahan  sambil belajar bekerja sama dan menciptakan suasana kelas yang nyaman, aman, dan saling menghormati

Penyampaian Materi (10–15 menit)

Guru memperkenalkan materi pecahan dengan menggunakan alat bantu nyata seperti gambar kue, kertas yang dilipat, atau potongan buah agar siswa lebih mudah memahami.
Guru menjelaskan bahwa seperti halnya potongan-potongan dalam pecahan yang membentuk satu kesatuan, setiap siswa juga bagian penting yang membantu menciptakan suasana kelas yang baik dan menyenangkan.

  1. Kegiatan Kelompok Pecahan  (20–25 menit)

v  guru membagi mereka menjadi beberapa pasangan kecil atau satu kelompok besar tergantung kebutuhan.

v  Tugas yang diberikan:

v  Menghitung pecahan dari kehidupan sehari-hari di kelas. Contoh: 2 dari 5 siswa suka Matematika → 2/5.

v  Menulis cerita singkat atau memberi contoh sederhana tentang pecahan dalam kehidupan sekolah, misalnya saat berbagi makanan atau membagi tugas kelas.

v  Guru mengingatkan pentingnya saling mendukung, mendengarkan teman, bekerja sama, dan menghindari saling mengejek agar semua merasa nyaman.

  1. Presentasi dan Apresiasi (10 menit)

v  Salah satu siswa menyampaikan hasil kerja mereka di depan kelas.

v  Guru memberi pujian kepada semua kelompok agar semua siswa merasa dihargai dan termotivasi.

  1. Refleksi dan Penutup (5 menit)

v  Guru mengajak siswa menceritakan apa yang mereka pelajari dan bagaimana perasaan mereka saat bekerja bersama teman.

v  Guru menjelaskan bahwa seperti dalam pecahan, setiap siswa adalah bagian penting agar kelas tetap utuh, bahagia, dan aman untuk semua

Manfaat Bagi School Well-Being:

Ø  Membantu siswa berkomunikasi dengan baik dan saling menghargai.

Ø   Mendorong siswa agar lebih aktif dan percaya diri.

Ø  Mengajarkan kerja sama, toleransi, dan menghormati perbedaan.

Ø  Menumbuhkan suasana kelas yang aman, ceria, dan bebas dari perundungan.

Asesmen (Penilaian )

v  Pemahaman  materi pecahan pecahan

v  Kerjasama dan partisipasi dengan anggota kelompok

v  Sikap positif ( saling mendukung, tidak mengejek )

v  Kemampuan berpendapat

D. Mengapa dalam mendukung school weell being perlu melibatkan berberbagai pihak

Terdapat sejumlah alasan mendasar yang memperkuat pentingnya kolaborasi dan keterlibatan lintas pihak dalam mendukung terciptanya school well-being, yaitu sebagai berikut:

Ø  Memenuhi berbagai kebutuhan siswa dan warga sekolah yang beragam.

Ø  Menciptakan lingkungan sekolah yang menyeluruh dan mendukung semua pihak.

Ø  Membangun rasa memiliki dan tanggung jawab bersama di antara semua pihak yang terlibat.

Ø  Menguatkan kerja sama dan kemampuan untuk menyelesaikan masalah secara bersama.

Ø  Meningkatkan kualitas dan relevansi pendidikan secara terus-menerus.

 

 

 

 

 

E. Faktor-Faktor Penentu School Well-Being (Kesejahteraan Sekolah)

School well-being merupakan kondisi yang tercipta dari interaksi berbagai elemen dalam ekosistem pendidikan yang mendukung perkembangan optimal peserta didik. Terdapat beberapa faktor utama yang mempengaruhi kesejahteraan sekolah:

Ø  Kondisi Sekolah:
Lingkungan fisik yang aman, bersih, dan nyaman, didukung oleh sarana prasarana yang memadai seperti perpustakaan, ruang kelas, dan fasilitas olahraga, sangat berpengaruh terhadap kenyamanan dan semangat belajar siswa

Ø  Relasi Sosial:
Peran guru yang peduli dan suportif mendorong motivasi dan rasa percaya diri siswa. Hubungan positif dengan teman sebaya yang aman dari perundungan menciptakan suasana sosial yang sehat.

Ø  Kapasitas Individu:
Motivasi belajar, kedisiplinan, serta kemampuan mengelola stres merupakan aspek individual yang mendukung kesejahteraan siswa. Selain itu, keterampilan sosial dan emosional membantu siswa membangun hubungan sehat dan mengelola emosi secara positif.

Ø  Aspek Tambahan:
Penerapan program Social and Emotional Learning (SEL) memperkuat keterampilan interpersonal dan pengelolaan emosi siswa. Dukungan kesehatan mental seperti layanan konseling sangat penting untuk membantu siswa menghadapi tekanan psikologis.

F. Dampak Positif dari Scooll Weell-Being

Kesejahteraan di lingkungan pendidikan, yang sering disebut sebagai school well-being, memberikan pengaruh positif yang sangat besar terhadap perkembangan menyeluruh peserta didik. Salah satu dampak utamanya adalah

Ø  Peningkatan semangat belajar dan keterlibatan aktif siswa dalam berbagai aktivitas pembelajaran.

Ø  Suasana sekolah yang mendukung keseimbangan mental, fisik, dan emosional siswa mampu menciptakan lingkungan yang mendorong pertumbuhan intelektual sekaligus memperkaya interaksi sosial.

Ø  Kehadiran dukungan psikososial yang memadai menjadikan siswa merasa dihargai, diterima, serta aman secara psikologis, sehingga menumbuhkan motivasi intrinsik untuk berpartisipasi secara aktif dalam kegiatan akademik maupun ekstrakurikuler.  

Ø  Kesejahteraan di lingkungan sekolah turut berperan dalam menanamkan nilai-nilai karakter positif seperti empati, ketangguhan mental (resilience), serta rasa tanggung jawab terhadap komunitas sosial.

Dengan demikian, implementasi strategi peningkatan school well-being bukan hanya berdampak pada pencapaian akademik, tetapi juga memberikan kontribusi penting terhadap pembentukan individu yang sehat secara mental, berdaya saing, dan mampu beradaptasi di tengah dinamika kehidupan sosial yang kompleks.

 

 

 

 

Setelah memperoleh pemahaman mengenai bagaimana faktor-faktor seperti lingkungan, keadaan emosional, karakter individu, serta berbagai aspek lainnya berpengaruh terhadap school well-being, maka  pandangan saya sebagai berikut:

 

1. Bagaimana anda sebagai guru mengelola emosi supaya bisa mempengaruhi positif pada lingkungan pelajaran anda?

Sebagai seorang pendidik yang mengampu mata pelajaran Matematika, saya menyadari bahwa mata pelajaran ini kerap dianggap sebagai tantangan atau bahkan momok bagi sebagian besar peserta didik. Namun demikian, demi mencapai hasil belajar yang optimal, saya menyadari pentingnya kemampuan untuk menciptakan suasana kelas yang menyenangkan dan disukai oleh para siswa, sehingga proses pembelajaran yang saya fasilitasi dapat selalu dinantikan dengan antusias. Salah satu langkah strategis yang saya lakukan adalah dengan berusaha mengendalikan emosi pribadi agar tidak memengaruhi interaksi di dalam kelas. Saya juga berupaya menciptakan suasana hati yang positif di kalangan peserta didik agar mereka merasa lebih nyaman dan bersemangat. Selain itu, saya secara aktif mengembangkan dan menerapkan berbagai strategi pembelajaran yang inovatif dan menarik, agar materi yang disampaikan dapat diterima dengan baik dan tidak membosankan. Tak kalah penting, saya berkomitmen untuk memastikan bahwa lingkungan kelas yang saya kelola selalu aman, nyaman, dan bebas dari segala bentuk perundungan, sehingga setiap peserta didik merasa dihargai, dilindungi, dan termotivasi untuk belajar secara optimal.

 

 

2. Bagaiana menciptakan lingkungan positif dengan kemampuan peserta didik yang beragam ?

Upaya yang saya lakukan dalam menciptakan lingkungan belajar yang positif di tengah keberagaman peserta didik adalah dengan menerapkan berbagai pendekatan yang berfokus pada inklusivitas, kenyamanan, dan penghargaan terhadap perbedaan individu. Saya memulai dengan membangun komunikasi yang terbuka dan empatik agar setiap siswa merasa dihargai dan diterima, tanpa memandang latar belakang, kemampuan, maupun karakter pribadi mereka. Selain itu, saya berupaya menciptakan suasana kelas yang ramah dan suportif, di mana setiap peserta didik diberikan kesempatan yang sama untuk berpartisipasi aktif dan mengembangkan potensi diri. Untuk menjaga dinamika kelas tetap kondusif, saya juga mengatur kegiatan pembelajaran yang bervariasi dan interaktif, sehingga siswa tetap termotivasi dan antusias. Tidak kalah penting, saya menanamkan nilai-nilai toleransi, saling menghargai, serta menjunjung tinggi prinsip anti-perundungan agar tercipta rasa aman secara psikologis bagi seluruh siswa. Dengan menciptakan ruang belajar yang positif, saya meyakini bahwa proses pembelajaran akan berlangsung lebih efektif dan dapat mendorong perkembangan akademik sekaligus karakter peserta didik secara seimbang.

 

 

 

 

 

REFREKSI

Setelah mempelajari konsep school well-being, saya menyadari betapa pentingnya menciptakan lingkungan sekolah yang mampu mendukung kesejahteraan holistik peserta didik. Kesejahteraan ini tidak hanya mencakup aspek akademik, tetapi juga mencakup dimensi emosional, sosial, dan psikologis yang secara langsung mempengaruhi proses belajar dan perkembangan karakter siswa. Saya memahami bahwa peran seorang pendidik tidak terbatas pada mentransfer pengetahuan, melainkan juga bertanggung jawab dalam menciptakan suasana belajar yang aman, nyaman, serta bebas dari tekanan dan diskriminasi.

Melalui pemahaman ini, saya semakin yakin bahwa school well-being berperan sebagai fondasi utama dalam meningkatkan motivasi belajar, keterlibatan siswa, dan pencapaian akademik. Lingkungan sekolah yang sehat dan positif membantu siswa merasa dihargai, diterima, dan didukung secara emosional. Hal ini berdampak pada peningkatan rasa percaya diri, kemampuan beradaptasi, serta pembentukan karakter yang kuat dan mandiri. Saya juga menyadari bahwa kesejahteraan di sekolah harus dikelola secara kolaboratif, melibatkan peran guru, tenaga kependidikan, orang tua, dan tentunya para peserta didik itu sendiri.

Sebagai guru, refleksi ini mendorong saya untuk terus memperbaiki cara saya mengelola kelas dan berinteraksi dengan siswa. Saya akan lebih memperhatikan aspek-aspek emosional dan sosial peserta didik, berusaha menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan, interaktif, dan bebas dari potensi perundungan. Selain itu, saya juga merasa terdorong untuk menggali berbagai strategi pembelajaran inovatif yang mampu meningkatkan partisipasi dan semangat belajar siswa, sekaligus membangun rasa aman secara psikologis di dalam kelas. Melalui penerapan prinsip-prinsip school well-being, saya berharap mampu membantu peserta didik tidak hanya mencapai keberhasilan akademik, tetapi juga tumbuh menjadi individu yang sehat, seimbang, dan siap menghadapi berbagai tantangan kehidupan.

 DOKUMEN KEGIATAN DI DALAM KELAS 



 


 DOKUMEN KEGIATAN BERSAMA BAPAK IBU GURU




 DOKUMEN DISKUSI DENGAN TEMAN SEJAWAT


 

 

 


 


 

 

 

 

Komentar

  1. Membacanya saja sudah membuat tentram, apalagi jika mengetahui kalau kegiatan pembelajaran di sekolah dikondisikan untuk selalu mensejahterakan penghuninya. Tugas guru memang tidak hanya mentransfer ilmu, jadi memahami modul di atas sangat menginspirasi saya. Semoga saya bisa merealisasikannya juga suatu hari nanti :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. trimakasih bu ika atas respon positifnya. aminnn

      Hapus
  2. Penjelasan yang sangat terperinci, menginspirasi bagi saya, madrasah berkembang tanpa batas dengan pendidik yang selalu berinovasi, dengan penerapan School Well-Being menciptakan madrasah yang nyaman dan menyenangkan, semoga madrasah kita menghasilkan hal positif dari penerapan pembelajaran ini, selalu berpsoses, semangat

    BalasHapus
    Balasan
    1. trimakasih bu dhptu, semoga bisa membawa MTs kita lebih baik lagi

      Hapus
  3. Nafiatul Farida
    Penjelasannya lengkap,
    dengan penerapan school well being diharapkan siswa lebih percaya diri untuk mengungkapkan kesulitan ttg mapel mtk shg diharapkan suasana kelas menjadi ceria dan menyenangkàn dan tujuan pembelajaran dpt tercapai dgn baik

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini