JUDUL
Menerapkan
Prinsip Understanding by Design (UbD) dalam Pembelajaran Bilangan Rasional
Berbentuk Pecahan untuk Kelas 7.
A. PENGERTIAN UNDERSTANDING BY
DESIGN ( UbD )
Pendekatan Understanding by Design (UbD)
merupakan suatu kerangka kerja dalam perancangan pembelajaran yang
menitikberatkan pada pencapaian pemahaman mendalam, bukan sekadar penguasaan
hafalan semata. Konsep inti dari UbD adalah memulai proses perancangan
pembelajaran dengan menentukan terlebih dahulu hasil akhir atau tujuan
pembelajaran yang ingin dicapai, kemudian merancang kegiatan pembelajaran dan
penilaiannya agar selaras dengan tujuan tersebut. Pendekatan ini menekankan
pentingnya kejelasan tujuan agar proses pembelajaran menjadi lebih terarah,
efektif, dan menarik bagi peserta didik. Salah satu aspek kunci dalam UbD
adalah penilaiannya yang dirancang sejak awal, sehingga instrumen evaluasi
mampu mengukur sejauh mana siswa benar-benar memahami materi, bukan hanya
mereproduksi informasi tanpa makna.
Understanding by Design
diperkenalkan dan dikembangkan oleh Grant Wiggins dan Jay McTighe melalui apa
yang dikenal sebagai backward design atau desain pembelajaran mundur. Pendekatan
ini menempatkan hasil belajar sebagai acuan utama sehingga segala aktivitas
pembelajaran diarahkan untuk membantu siswa mencapai pemahaman yang diharapkan.
Dalam kerangka ini, siswa tidak hanya dituntut untuk mengetahui apa yang diajarkan,
tetapi juga memahami secara mendalam makna dan relevansi materi yang
dipelajari.
Ciri-ciri utama dari pemahaman yang
dikembangkan melalui UbD mencakup beberapa dimensi, yaitu kemampuan siswa dalam
menjelaskan konsep secara logis, menafsirkan informasi dengan tepat, menerapkan
pengetahuan dalam konteks yang beragam, melihat suatu persoalan dari berbagai
perspektif, menunjukkan empati terhadap sudut pandang lain, serta memiliki
kesadaran diri terhadap apa yang telah dan belum mereka kuasai. Dengan demikian,
UbD berupaya membangun kompetensi siswa secara holistik agar mereka mampu
menghadapi tantangan nyata di luar ruang kelas.
B. PRINSIP UNDERSTANDING BY DESIGN
Understanding by Design, adalah kerangka
kerja perancangan kurikulum dan pengajaran yang berpusat pada pemahaman
mendalam. Prinsip utamanya adalah memulai dengan hasil yang diinginkan,
kemudian menentukan bukti penilaian, dan barulah merancang pengalaman belajar. Singkatnya,
UbD adalah pendekatan "desain mundur" yang memastikan bahwa
pengajaran dan penilaian selaras dengan tujuan pembelajaran yang jelas, dengan
fokus utama pada pengembangan pemahaman mendalam siswa.
Adapun prinsip Understanding by Design
adalah :
·
Fokus
pada pemahaman : Pendalaman dirancang untuk siswa agar lebih memahami materi
yang disampaikan bukan hanya sekedar menghafal
·
Perencanaan dimulai dengan merencanakan tujuan
pembelajaran kemudian menetukan bukti penilaian lanjut merancang kegiatan
pembelajaran
·
Pemahaaman terkait dengan penjelasan, pemahaman,
empati, dan pengetahuan diri
·
Penialain dirancang untuk mengukur pemahaman tuhas-
tugas
·
Pembelajaran dibuat sesuai keadaan siswa dalam
kehidupan nyata
C. LANGKAH – LANGKAH PEMBELAJARAN ( UbD )
1. Menentukan tujuan
Ada tiga hal utama yang perlu dipikirkan dan dirancang dengan baik di tahap
ini. Pertama adalah Pemahaman Bermakna (Enduring Understandings),
yaitu ide-ide besar, prinsip dasar, atau konsep penting yang harus benar-benar
dipahami siswa dan tetap mereka ingat dalam jangka panjang, bahkan jika mereka
lupa detail-detail kecil dari pelajaran. Pemahaman ini membantu siswa mengerti
mengapa mereka perlu mempelajari suatu materi dan bagaimana kaitannya dengan
kehidupan mereka.
Kedua, guru perlu membuat Pertanyaan Inti
(Essential
Questions) yang bersifat terbuka. Pertanyaan ini harus mampu
membuat siswa berpikir kritis, mengeksplorasi berbagai ide, dan menemukan
hubungan antar konsep. Karena tidak ada satu jawaban pasti, pertanyaan ini
mendorong siswa untuk memahami topik secara lebih luas dan mendalam.
Ketiga, guru harus menentukan secara jelas Pengetahuan
dan Keterampilan yang harus dikuasai siswa. Ini mencakup fakta,
konsep, langkah-langkah, serta keterampilan yang perlu dipelajari agar siswa
bisa memahami dan menerapkan apa yang mereka pelajari dengan baik. Pengetahuan
ini tidak hanya berguna untuk jangka pendek, tetapi juga membantu siswa
memecahkan masalah di masa depan.
2. Menentukan Asesmen
Setelah tujuan pembelajaran
ditetapkan, langkah selanjutnya adalah bertanya: "Bagaimana kita akan tahu
bahwa siswa telah mencapai pemahaman yang diinginkan?". Pada tahap
ini, kita merancang penilaian yang akan menjadi bukti bahwa siswa telah
mencapai hasil yang diinginkan. Penilaian ini harus nyata dan beragam ,
meliputi:
- Tugas
Kinerja : Penilaian nyata yang meminta siswa untuk menerapkan
pemahaman dan keterampilan mereka dalam konteks yang realistis atau
bermakna. Contohnya bisa berupa proyek, presentasi, simulasi, atau
penyelesaian masalah kompleks. Ini adalah cara utama untuk melihat apakah
siswa dapat "melakukan" pemahaman mereka.
- Bukti
Lainnya : Ini mencakup penilaian yang lebih tradisional dan
melengkapi tugas kinerja, seperti kuis, tes, observasi, diskusi,
pertanyaan lisan, atau pekerjaan rumah. Bukti-bukti ini membantu mengukur
pengetahuan faktual dan keterampilan dasar.
3. Mendesain Kegiatan belajar
Salah satu panduan yang sering digunakan untuk
membantu guru dalam merancang pengalaman belajar yang efektif dan bermakna
adalah kerangka W.H.E.R.E.T.O., yang mencakup tujuh prinsip inti. Pertama, W
(Where
and Why) menekankan pentingnya membantu siswa memahami apa yang
akan mereka pelajari. Kedua, H (Hook)
berfokus pada upaya memancing minat dan rasa ingin tahu siswa sejak awal
pembelajaran. Ketiga, E (Explore and Equip) mengacu pada proses membekali siswa
dengan pengetahuan baru, keterampilan, dan pemahaman mendalam melalui
eksplorasi ide-ide utama dan latihan yang mendukung. Keempat, R
(Rethink
and Revise) menyoroti pentingnya memberikan kesempatan bagi siswa
untuk merefleksikan pemahaman mereka, memperbaiki kesalahan, dan merevisi hasil
pekerjaan agar terjadi perbaikan berkelanjutan. Kelima, E (Evaluate)
mengajak siswa untuk secara aktif menilai kemajuan dan pencapaian mereka
sendiri..Keenam, T (Tailor) menuntut guru untuk menyesuaikan metode, materi, dan
pendekatan pembelajaran agar sesuai dengan kebutuhan, minat, dan karakteristik
siswa yang beragam, sehingga tercipta suasana belajar yang inklusif dan
memotivasi.Terakhir, O (Organize) menekankan pentingnya menyusun alur pembelajaran
secara teratur, runtut, dan mudah dipahami agar siswa dapat mengikuti proses
belajar dengan lancar tanpa kebingungan.Dengan menerapkan prinsip-prinsip W.H.E.R.E.T.O.,
pembelajaran tidak hanya menjadi lebih terstruktur, tetapi juga lebih
menyenangkan dan bermakna, sehingga mampu mendorong keterlibatan dan pemahaman
siswa secara maksimal.
D. Ide apa yang didapat
setelah mempelajari topik Understanding By Design?
Setelah mempelajari
prinsip-prinsip Understanding by Design (UbD), saya semakin meyakini bahwa
pendekatan ini sangat efektif dalam membantu saya mencapai tujuan akhir
pembelajaran yang diharapkan. Hal ini disebabkan oleh karakteristik UbD yang menekankan pentingnya pencapaian
pemahaman mendalam, bukan sekadar penguasaan informasi di permukaan. Pendekatan
ini juga mendorong siswa untuk menjadi lebih kreatif dalam berpikir serta lebih
bertanggung jawab atas proses dan hasil pemahaman yang mereka peroleh selama pembelajaran.
Melalui pemahaman terhadap konsep UbD, terdapat beberapa ide penting yang saya
peroleh untuk diterapkan dalam praktik pembelajaran. Pertama, pembelajaran
sebaiknya dirancang dengan memulai dari penentuan hasil akhir atau capaian yang
ingin dicapai oleh siswa.Kedua, pembelajaran harus difokuskan pada pengembangan
pemahaman yang bermakna. Ketiga, penilaian atau asesmen yang dilakukan harus
relevan dan autentik, yaitu benar-benar dirancang untuk mengukur pemahaman
siswa secara komprehensifKeempat, perancangan kegiatan pembelajaran perlu
disesuaikan dengan bentuk asesmen yang telah dirancang di awal. Penerapan
keempat ide tersebut dalam proses pembelajaran diyakini akan memperkuat
keterlibatan siswa, meningkatkan pemahaman yang mendalam, serta membekali
mereka dengan kemampuan berpikir kritis dan reflektif.
E. REFLESI
PENERAPAN UbD
Menerapkan UbD untuk mengajar
bilangan rasional berbentuk pecahan memberi saya beberapa pelajaran penting:
·
Tujuan Lebih Jelas: Memulai dengan tujuan
membuat saya lebih fokus saat merencanakan pelajaran. Siswa juga jadi lebih
paham kenapa mereka belajar ini.
·
Siswa Lebih Terlibat: Pertanyaan penting dan
tugas nyata bikin siswa lebih semangat. Mereka tak cuma mengerjakan soal, tapi
juga memakai pemahaman mereka dalam situasi yang berkaitan dengan kehidupan.
·
Penilaian Lebih Lengkap: Penilaian
berbasis kinerja menunjukkan pemahaman siswa lebih baik daripada tes biasa. Saya
bisa melihat bagaimana siswa menerapkan, memahami, dan menjelaskan konsep
pecahan.
·
Tantangan Penerapan: Butuh lebih banyak
waktu dan persiapan di awal. Membuat tugas kinerja yang benar-benar nyata dan
bisa mengukur pemahaman dalam sungguh sulit. Ditambah lagi, saya perlu
fleksibel menyesuaikan materi dengan kebutuhan siswa.
·
Guru sebagai Pembimbing: Peran saya lebih
jadi pembimbing, bukan cuma pemberi informasi. Ini bikin siswa jadi lebih aktif
dan mandiri dalam belajar.
F. KESIMPULAN
Penerapan prinsip Understanding by
Design (UbD) dalam proses pembelajaran bilangan rasional berbentuk
pecahan pada siswa kelas VII terbukti sangat efektif dalam meningkatkan
kualitas pembelajaran. Melalui pendekatan backward design atau
perancangan mundur, guru memiliki kesempatan untuk menyusun kegiatan
pembelajaran yang terfokus pada pencapaian hasil akhir yang diinginkan. Dengan
demikian, siswa tidak hanya dituntut untuk memiliki keterampilan menghitung
bilangan pecahan secara mekanis, tetapi juga mampu memahami makna mendalam di
balik konsep tersebut, mengaitkannya dengan situasi kehidupan nyata, serta
menerapkannya dalam berbagai konteks yang relevan.Secara keseluruhan, UbD
memberikan suatu kerangka kerja yang sistematis dan kokoh dalam menciptakan
pengalaman belajar yang tidak hanya bermakna, tetapi juga relevan bagi
kebutuhan dan perkembangan siswa. Dengan demikian, pendekatan ini dapat menjadi
strategi yang efektif dalam membangun pembelajaran yang berorientasi pada
pemahaman jangka panjang.
MODUL
AJAR
RANCANGAN PEMBELAJARAN DENGAN PRINSIP
UNDERSTANDING BY DESIGN
1.
IDENTITAS MODUL
- Nama
Penyusun : Fitria
Nursanti
- Institusi : MTs Centong
Blitar
- Tahun
Pelajaran : 2025/2026
- Jenjang
Sekolah : MTs
- Mata
Pelajaran : Matematika
- Kelas : VII (Tujuh)
- Materi Pokok : Bilangan
Rasional dalam Bentuk Pecahan
- Alokasi
Waktu : 2 JP (2 x
40 menit)
Capaian Pembelajaran (CP)
Di akhir Fase D, siswa diharapkan mampu membaca, menulis, dan
membandingkan bilangan rasional, memecahkan soal yang berhubungan dengan
perbandingan bilangan rasional, menjelaskan urutan bilangan rasional, serta
menyatakan bilangan tersebut dalam berbagai bentuk.
Tujuan Pembelajaran (TP)
- Siswa dapat
mengenali bilangan rasional dalam bentuk pecahan.
- Siswa dapat
membandingkan dua bilangan rasional dalam bentuk pecahan.
- Siswa dapat
mengurutkan beberapa bilangan rasional dalam bentuk pecahan.
Alur Tujuan Pembelajaran (ATP)
- Memahami
bilangan rasional sebagai bagian dari kelompok bilangan.
- Mengetahui
bentuk umum bilangan rasional, yaitu a/b dengan a dan b bilangan bulat
serta b≠0.
- Membedakan
jenis-jenis pecahan seperti pecahan biasa, pecahan campuran, dan pecahan
desimal terbatas.
- Mampu
membandingkan dua bilangan rasional dengan cara menyamakan penyebut atau
perkalian silang.
- Mampu
mengurutkan beberapa bilangan rasional dari yang terkecil hingga yang
terbesar.
Pemahaman Bermakna (UbD)
Siswa memahami bahwa pecahan sering digunakan dalam kehidupan
sehari-hari, seperti saat berbelanja atau membagi sesuatu. Mereka juga belajar
cara membandingkan dan mengurutkan pecahan dengan benar agar bisa menerapkannya
di berbagai situasi.
Pertanyaan Esensial
• Kenapa penting memahami pecahan? Kapan kita menggunakannya?
• Bagaimana cara memastikan apakah satu pecahan lebih besar atau lebih kecil
dari yang lain?
• Bagaimana cara menyusun pecahan agar urut dengan benar?
Pengetahuan Penting
• Definisi bilangan rasional dan pecahan.
• Bagian-bagian dalam pecahan: pembilang dan penyebut.
• Cara mengubah bentuk pecahan: biasa, campuran, desimal.
• Metode membandingkan pecahan: penyebut sama atau perkalian silang.
• Cara mengurutkan beberapa pecahan.
Keterampilan Penting
• Mengidentifikasi bilangan rasional dalam bentuk pecahan.
• Membandingkan dua bilangan rasional dalam bentuk pecahan.
• Mengurutkan beberapa bilangan rasional.
Asesmen
|
1.
Asesmen Diagnostik (Sebelum
Pembelajaran): |
1. Kuis singkat: "Apa yang
kamu ketahui tentang pecahan?" 2. Pertanyaan lisan seperti: "Mana yang lebih besar, 1/2 atau
1/4?" |
|
1. Observasi saat siswa berdiskusi dan
mengerjakan latihan. 2. Latihan soal membandingkan dan
mengurutkan pecahan. 3. Diskusi dan presentasi kelompok untuk melihat pemahaman siswa. o
|
|
Tes
tulis berupa soal pilihan ganda dan esai terkait materi yang sudah diajarkan. |
|
|
|
Bahan Ajar / Media Pembelajaran
·
1. Papan tulis/Spidol atau Proyektor
·
2. Laptop/Komputer
·
3. Gambar-gambar yang merepresentasikan pecahan (pizza,
kue, potongan buah)
·
4. Kartu pecahan (opsional, untuk kegiatan interaktif)
Kegiatan Pembelajaran
Model Pembelajaran: Discovery Learning / Problem-Based
Learning
Metode Pembelajaran: Diskusi, Tanya Jawab, Penugasan
Kelompok
Komponen Inti
Pertemuan 1 (2 JP)
A. Kegiatan Pembelajaran
|
Bagian |
Kegiatan pembelajaran |
|
Pendahuluan ( 15 menit ) |
1. Guru membuka pelajaran, menyapa siswa, dan memeriksa kehadiran. 2. Guru memberikan pertanyaan pemantik tentang pecahan yang sering ditemui
sehari-hari, seperti membagi kue atau diskon. 3. Guru menjelaskan tujuan belajar hari ini. 4. Mengingatkan kembali materi dasar tentang pecahan dan meminta siswa
menyebutkan pecahan dari gambar sederhana (misalnya, sepotong pizza). 5. Guru memancing diskusi dengan pertanyaan seperti: "Apakah 3/4 sama
dengan 6/8?" |
|
Kegiatan Inti (60 menit) |
Mengenal Bilangan
Rasional (15 menit): ·
Guru menjelaskan bilangan rasional dan memberi
contoh. ·
Siswa diajak menyebutkan mana bilangan yang
termasuk bilangan rasional. Membandingkan Pecahan
(20 menit): ·
Siswa dibagi kelompok kecil dan mendapat
lembar kerja membandingkan pecahan. ·
Guru membimbing penggunaan strategi seperti
menyamakan penyebut atau perkalian silang. ·
Kelompok mempresentasikan hasil diskusi. Mengurutkan Pecahan
(20 menit): ·
Siswa mendapat beberapa pecahan untuk
diurutkan. ·
Diskusi kelompok mencari cara terbaik untuk
mengurutkan. ·
Hasil kerja dipresentasikan ke kelas. Aplikasi Konsep (5
menit): ·
Guru memberikan soal cerita yang berhubungan
dengan kehidupan sehari-hari untuk diselesaikan. |
|
Penutup (15 menit) |
1. Guru bersama siswa merangkum pelajaran hari ini: apa itu bilangan
rasional, cara membandingkan, dan cara mengurutkan pecahan. 2. Guru mengajak siswa refleksi: bagian mana yang mudah atau sulit
dipahami, dan manfaat belajar pecahan. 3. Siswa menulis satu hal baru yang mereka pelajari. 4. Guru memberikan PR dan memberi informasi tentang materi pertemuan
berikutnya. 5. Guru menutup pelajaran. |
Baru kali ini mengetahui tentang WHERETO. Penerapan WHERETO sangat terstruktur dan bagus jika diterapkan di kelas. Anak-anak pasti akan lebih tertarik untuk belajar dari pada hanya diisi dengan kegiatan pembelajaran spontan yang sering kali membosankan ^_^'
BalasHapusTrimakasih bu ika atas respon positifnya
HapusPembelajaran yang diterapkan bagus dan menarik,,
BalasHapusMembuat Peserta Didik antusias untuk mengikuti pembelajaran, sehingga mudah memahami materi yg d ajarkan
trimakasih bu manzil atas responya. tambah bersemangat saya
HapusBagus dan sangat menginspirasi bagi kita para guru, selalu update dalam perbaikan proses pembelajaran yang lebih bermakna dan menarik
BalasHapusmasya allah trimakasih bu dhotu,semangat dalam belajar trus
Hapus