JUDUL : PENERAPAN NILAI PANCASILA DALAM
PEMBELAJARAN MATEMATIKA BERBASIS PEMIKIRAN KIHAJAR DEWANTARA MATERI PECAHAN
KELAS 7
A. LATAR BELAKANG
Pendidikan nasional Indonesia berakar pada
nilai-nilai luhur bangsa, salah satunya tercermin dari gagasan Ki Hajar
Dewantara sebagai tokoh pendidikan nasional. Beliau menegaskan bahwa pendidikan
harus memerdekakan manusia secara menyeluruh, baik dalam hal berpikir,
bersikap, maupun berperilaku. Prinsip Among yang terkenal dengan semboyan "ing
ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, dan tut wuri handayani"
menjadi landasan penting dalam menciptakan pembelajaran yang bersifat humanis,
berpusat pada peserta didik, serta sesuai dengan perkembangan zaman.
Dalam pembelajaran masa kini, pemikiran Ki Hajar Dewantara tidak hanya
berkaitan dengan pembentukan karakter, tetapi juga sangat relevan untuk diterapkan
pada pembelajaran berbasis kompetensi, termasuk di mata pelajaran Matematika.
Matematika kerap dianggap sulit dan terlalu abstrak, terutama pada materi pecahan
di kelas 7 MTs yang membutuhkan kemampuan berpikir logis dan pemahaman konsep
yang baik. Kondisi ini sering membuat sebagian siswa merasa kesulitan dan
kurang berminat belajar. Oleh karena itu, dibutuhkan pendekatan pembelajaran
yang tidak hanya menekankan hafalan rumus, tetapi juga melibatkan pengembangan
sikap, keterampilan, dan pemahaman secara menyeluruh.
Pendekatan pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara dapat digunakan sebagai
salah satu cara penyelesaian.. Guru berperan sebagai teladan, pemberi semangat,
sekaligus pendamping yang memfasilitasi siswa dalam proses belajar. Siswa
dilibatkan secara aktif untuk membangun pemahamannya sendiri melalui diskusi,
pemecahan masalah yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari, serta kerja sama
dalam kelompok. Prinsip Among diterapkan secara nyata ketika guru
memberi contoh cara menyelesaikan soal pecahan secara teliti (ing ngarso
sung tulodo), memotivasi siswa agar semangat belajar dalam diskusi (ing
madyo mangun karso), dan membiarkan siswa berkreasi menyelesaikan soal
dengan caranya sendiri (tut wuri handayani).
B. FILSAFAT PANCASILA DAN PEMIKIRAN KI HAJAR DEWANTARA SEBAGAI LANDASAN
PENDIDIKAN NASIONAL
1. Filsafat Pancasila sebagai
Landasan Pendidikan Nasional
Pancasila adalah dasar negara
sekaligus pandangan hidup bangsa Indonesia yang berisi nilai-nilai luhur
seperti ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, demokrasi, dan keadilan sosial.
Dalam dunia pendidikan, Pancasila menjadi landasan penting yang mengarahkan
proses pembelajaran agar sesuai dengan jati diri bangsa.
·
Setiap sila Pancasila memiliki hubungan erat dengan tujuan
pendidikan nasional, di antaranya: Ketuhanan Yang Maha Esa → Pendidikan harus
menumbuhkan keimanan, budi pekerti, dan akhlak mulia.
·
Kemanusiaan yang Adil dan Beradab → Pendidikan
diharapkan dapat mencetak pribadi yang santun, menghargai orang lain, serta
menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.
·
Persatuan Indonesia → Sekolah berperan menanamkan rasa cinta
tanah air dan memperkuat persatuan bangsa.
·
Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam
Permusyawaratan/Perwakilan → Peserta didik dilatih untuk bersikap demokratis,
menghargai pendapat orang lain, dan terbiasa bermusyawarah.
·
Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia → Pendidikan
harus memberi kesempatan yang sama kepada semua anak tanpa membedakan latar
belakang.
Hal ini menunjukkan bahwa Pancasila
memiliki peran ganda, yakni sebagai panduan nilai moral dan sebagai dasar
penerapan pendidikan.Guru tidak cukup hanya mengajar materi pelajaran, tetapi juga
bertugas membangun karakter peserta didik agar tumbuh menjadi pribadi yang
beriman, berakhlak mulia, bertanggung jawab, dan bermanfaat bagi masyarakat.
2. Pemikiran Ki
Hajar Dewantara sebagai Landasan Pendidikan Nasional
Ki Hajar Dewantara, yang dikenal sebagai Bapak Pendidikan
Nasional, mengembangkan konsep pendidikan Sistem Among. Konsep ini menekankan
bahwa pendidikan harus memerdekakan manusia dan menyesuaikan dengan kodrat alam
(potensi dan bakat anak) serta kodrat zaman (perkembangan masyarakat dan
teknologi).
Prinsip utama Ki Hajar Dewantara tercermin dalam semboyannya:
- Ing Ngarso
Sung Tulodo (di depan memberi teladan) → Guru menjadi contoh dalam
bersikap, bertutur kata, dan berpikir, sehingga bisa ditiru oleh siswa.
- Ing Madyo
Mangun Karso (di tengah membangun semangat) → Guru harus mendorong,
memotivasi, dan menciptakan suasana belajar yang menyenangkan agar siswa
mau berusaha.
- Tut Wuri
Handayani (di belakang memberi dorongan) → Guru memberikan
kebebasan kepada siswa untuk berkreasi dan mengembangkan kemampuannya,
tetapi tetap membimbing dan memberi arahan jika diperlukan.
3. Integrasi
Filsafat Pancasila dan Pemikiran Ki Hajar Dewantara dalam Pendidikan Nasional
·
Pancasila dan pemikiran Ki Hajar Dewantara saling melengkapi
dalam pelaksanaan pendidikan.Pancasila memberikan arah dan tujuan pendidikan,
yaitu mencetak manusia yang beriman, berkarakter baik, dan bertanggung jawab.
- Pemikiran Ki
Hajar Dewantara memberikan cara atau pendekatan untuk mewujudkan tujuan
itu melalui pembelajaran yang memerdekakan, humanis, dan sesuai
perkembangan anak.
Dalam praktik pembelajaran sehari-hari, integrasi ini terlihat
ketika guru:
- Menjadi
teladan, motivator, sekaligus fasilitator (sesuai prinsip Among).
- Mengajarkan
nilai gotong royong, keadilan, dan demokrasi sesuai Pancasila dalam
berbagai aktivitas pembelajaran.
- Menerapkan
pembelajaran kontekstual dan berpusat pada siswa, sehingga mereka aktif
membangun pemahamannya sendiri.
- Melakukan
penilaian holistik, yang menilai pengetahuan, keterampilan, dan sikap
sesuai dengan Profil Pelajar Pancasila.
FILSAFAT PANCASILA
DAN PEMIKIRAN KI HAJAR DEWANTARA SEBAGAI LANDASAN PENDIDIKAN NASIONAL
1.LANGKAH – LANGKAH YANG SPESIFIK YANG SAYA AMBIL UNTUK
MEWUJUDKAN PRINSIP PEMBELAJARAN MENURUT KI HAJAR DEWANTARA
Rancangan pembelajaran yang saya susun menerapkan prinsip pembelajaran
berpusat pada peserta didik sesuai pemikiran Ki Hadjar Dewantara dengan
langkah-langkah konkret sebagai berikut:
1.
Mengaitkan materi dengan kehidupan sehari-hari
(Kodrat Alam) : Pembelajaran diawali dengan pertanyaan
kontekstual, misalnya menghitung pecahan roti yang dimakan, agar siswa
menyadari bahwa pecahan dekat dengan kehidupan mereka.
2.
Membangun semangat belajar melalui diskusi (Ing
Madya Mangun Karso) : Siswa dibagi dalam kelompok heterogen
agar dapat saling membantu. Saya berada di tengah-tengah mereka, memotivasi,
dan memberi pertanyaan pemandu tanpa langsung memberi jawaban.
3.
Memberi kebebasan memilih cara pemecahan (Tut Wuri
Handayani): Siswa
diperbolehkan menggunakan berbagai cara, seperti menggambar, menggunakan kertas
lipat, atau langsung menghitung, sehingga mereka lebih percaya diri dan aktif.
4.
Memberi teladan sikap positif (Ing Ngarso Sung
Tulodo) : Saya mencontohkan sikap santun dalam diskusi dengan
menghargai semua jawaban, baik benar maupun salah, agar siswa meniru sikap
serupa saat berdiskusi.
5.
Presentasi hasil dan musyawarah :Perwakilan
kelompok mempresentasikan hasil diskusi, sementara siswa lain memberikan
tanggapan. Ini melatih komunikasi, kerja sama, dan nilai gotong royong.
6.
Refleksi bersama :Di akhir
pembelajaran, saya mengajak siswa merefleksikan pengalaman belajar, tidak hanya
dari sisi pemahaman pecahan tetapi juga kerja sama yang mereka lakukan.
2.
RANCANGAN
PEMBELAJARAN
Mata Pelajaran : Matematika
Kelas/Semester : VII /
Ganjil
Materi : Pecahan
(Penjumlahan Pecahan)
Pendekatan : Problem
Based Learning (PBL)
Landasan Filosofis : Pemikiran
Ki Hadjar Dewantara (Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madya Mangun Karso, Tut Wuri
Handayani)
Alokasi Waktu : 2 x 40
menit
A. Tujuan Pembelajaran
Setelah pembelajaran, siswa diharapkan mampu:
- Menyelesaikan
masalah kontekstual yang berkaitan dengan penjumlahan pecahan.
- Menjelaskan
langkah-langkah penjumlahan pecahan dengan cara mereka sendiri.
- Menunjukkan
sikap gotong royong, menghargai pendapat, dan bertanggung jawab dalam
diskusi kelompok.
- Mengkomunikasikan
hasil kerja kelompok secara percaya diri.
B. Penerapan Prinsip Ki Hadjar
Dewantara dalam Pembelajaran
- Ing Ngarso
Sung Tulodo (Memberi Teladan)
Guru menunjukkan sikap santun dan menghargai pendapat siswa. Misalnya, ketika siswa menjawab salah, guru menanggapinya dengan baik dan memberikan arahan. - Ing Madya
Mangun Karso (Memberi Semangat di Tengah Siswa)
Guru berkeliling saat diskusi kelompok untuk membangkitkan semangat siswa. Guru memberi pertanyaan pemandu seperti: “Bagaimana caranya menyamakan penyebut kalau setengah ditambah sepertiga?” - Tut Wuri
Handayani (Memberi Dorongan dari Belakang)
Guru memberi kebebasan kepada siswa untuk memilih cara menyelesaikan masalah. Ada yang menggambar, ada yang memakai kertas lipat, dan ada yang langsung menggunakan cara hitung matematika. - Prinsip
Kodrat Alam
Masalah pecahan diambil dari kehidupan sehari-hari siswa, seperti membagi roti, pizza, atau kue. - Prinsip
Kodrat Zaman
Siswa diperbolehkan mengecek hasil hitungnya menggunakan kalkulator atau aplikasi sederhana (dengan pengawasan guru). - Pendidikan
sebagai Tuntunan Budi Pekerti
Siswa diarahkan untuk saling membantu, berdiskusi secara santun, dan memastikan semua anggota kelompok paham materi.
C. Langkah-Langkah Pembelajaran
(Sintaks PBL)
|
A. Pendahuluan (10 menit)
|
·
Guru menjelaskan tujuan pembelajaran |
|
B. Kegiatan Inti (60 menit)
|
|
|
C. Penutup (10 menit)
|
|
D. Penilaian
- Sikap
(Observasi)
- Pengetahuan
(Tes Tertulis)
- Keterampilan
(Presentasi)
3. Strategi atau Metode
Pembelajaran untuk Mengakomodasi Keberagaman Siswa
Saya menggunakan strategi Problem
Based Learning (PBL) karena strategi ini membuat semua siswa bisa aktif belajar
sesuai kemampuan dan cara belajarnya masing-masing.Dalam PBL, siswa dibuat
berkelompok . Dalam satu kelompok ada siswa yang cepat paham dan ada yang masih
perlu bantuan. Mereka bisa saling membantu. Siswa yang sudah paham bisa
menjelaskan kepada temannya, sedangkan yang belum paham bisa belajar lebih
santai dari teman sekelompoknya.Saya juga membiarkan siswa memilih cara mereka
menyelesaikan soal. Ada yang suka menggambar, ada yang memakai kertas lipat,
dan ada juga yang langsung menghitung dengan rumus. Cara ini membuat semua
siswa merasa dihargai karena bisa belajar sesuai gaya belajarnya sendiri.Saya
memilih PBL karena sesuai dengan prinsip pembelajaran berpusat pada siswa
menurut Ki Hadjar Dewantara. Siswa diberi kesempatan untuk berpikir, mencoba,
dan bertanggung jawab terhadap belajarnya, sedangkan guru hanya membimbing.
Selain itu, strategi ini juga mengajarkan kerja sama, diskusi, dan saling
menghargai, sesuai nilai-nilai Pancasila.
3. Pemahaman Baru tentang
Pembelajaran Berpusat pada Peserta Didik
Setelah menyusun rancangan
pembelajaran ini, saya semakin paham bahwa pembelajaran yang berpusat bukan
hanya berarti guru menjadi fasilitator, tetapi juga bagaimana kita menciptakan
suasana belajar yang membuat siswa merasa nyaman, bebas berpendapat, dan
bertanggung jawab atas proses belajarnya sendiri.Saya juga menyadari bahwa
pembelajaran tidak hanya soal memahami materi, tetapi juga menuntun budi pekerti
siswa. Melalui kegiatan kelompok, mereka belajar saling membantu, berdiskusi
dengan sopan, dan menghargai perbedaan pendapat. Nilai-nilai inilah yang
sejalan dengan Pancasila dan harus terus ditanamkan dalam proses belajar.
4. Tantangan dan Cara Mengatasinya
Saat menyusun rancangan pembelajaran ini, saya menghadapi
beberapa tantangan.
- Membuat
masalah kontekstual yang menarik dan sesuai dengan kemampuan siswa
- Menyesuaikan
kegiatan dengan keberagaman siswa
- Mengelola
waktu diskusi kelompok
5. Kontribusi Rancangan Pembelajaran terhadap Peningkatan
Kualitas Pembelajaran
Rancangan pembelajaran ini menurut saya dapat meningkatkan
kualitas pembelajaran di kelas karena beberapa hal.
·
siswa menjadi lebih aktif dan terlibat langsung dalam proses
belajar. Dengan strategi Problem Based Learning (PBL), mereka tidak hanya
mendengarkan penjelasan guru, tetapi juga berdiskusi, mencoba, dan menemukan
sendiri jawaban dari masalah yang diberikan.
·
materi menjadi lebih mudah dipahami karena dikaitkan dengan
kehidupan sehari-hari.
·
nilai-nilai karakter positif ikut berkembang. Melalui kerja
kelompok, siswa belajar gotong royong, saling membantu, berdiskusi dengan
sopan, dan bertanggung jawab menyelesaikan tugas bersama.
·
siswa merasa lebih percaya diri karena diberi kebebasan memilih
cara belajar yang sesuai dengan kemampuannya. Hal ini membuat suasana kelas
lebih menyenangkan dan tidak menegangkan.
REFLEKSI
Setelah menyusun dan mencoba
menerapkan rancangan pembelajaran ini, saya banyak mendapatkan pemahaman baru.
Saya menyadari bahwa pembelajaran yang berpusat pada siswa itu bukan hanya guru
duduk diam menjadi fasilitator, tetapi guru harus menciptakan suasana yang
membuat siswa berani mencoba, aktif bertanya, dan bertanggung jawab pada
belajarnya sendiri.Pemikiran Ki Hadjar Dewantara sangat terasa relevansinya.
Prinsip “Tut Wuri Handayani” membuat saya belajar untuk memberikan kepercayaan
penuh kepada siswa agar mereka menemukan jawabannya sendiri Mengacu pada
prinsip “Ing Madya Mangun Karso”, saya berusaha selalu mendampingi siswa,
membangkitkan antusiasme belajar, dan memandu mereka ketika menemui kesulitan.. Saya juga
belajar bahwa menjadi teladan itu penting (“Ing Ngarso Sung Tulodo”),
karena siswa akan meniru cara guru bersikap.Tantangan yang saya rasakan adalah
membuat soal kontekstual yang menarik dan sesuai kemampuan siswa. Tidak mudah
mencari masalah sehari-hari yang pas untuk dijadikan soal pecahan. Namun saya
mencoba mengambil contoh yang dekat dengan kehidupan mereka, seperti membagi
roti atau pizza, sehingga lebih mudah dipahami. Tantangan lain adalah mengelola
waktu diskusi, karena kadang siswa terlalu asyik berdiskusi. Untuk
mengatasinya, saya memberi batas waktu yang jelas dan mengingatkan mereka agar
tetap fokus.Rancangan ini menurut saya sangat membantu meningkatkan kualitas
pembelajaran di kelas. Siswa terlihat lebih senang belajar karena materi dibuat
sederhana dan dekat dengan kehidupan mereka. Mereka juga lebih aktif bertanya,
bekerja sama, dan saling membantu. Hal yang paling saya syukuri, mereka tidak
hanya belajar matematika, tetapi juga belajar nilai-nilai penting seperti
gotong royong, menghargai pendapat, dan bertanggung jawab.
UMPAN
BALIK REKAN SEJAWAT
UMPAN
BALIK REKAN SEJAWAT

Setelah membaca penerapan nilai Pancasila yang dilakukan oleh Bu Fitri, saya menjadi semakin paham pentingnya guru untuk bertindak aktif di dalam kelas untuk menerapkan prinsip-prinsip yang bisa membangun jati diri siswa. Dengan ini semoga anak-anak bisa semakin semangat untuk belajar dan berkembang
BalasHapustrimakasih bu ika atas responya, amin semoga bisa menambah semangat belajar
BalasHapusUlasan yang disampaikan begitu jelas dan terperinci, dengan adanya landasan dari Ki Hajar Dewantara menjadi jalan atau bentuk proses yang sesuai dengan perkembangan peserta kita, semoga ke depan nya bisa menginspirasi kita semua untuk bisa menerapkan landasan tersebut
BalasHapusaminnn, trimakasih bu roudhotul jannah respon
BalasHapus